Kajian Bendungan Telaga Tunjung Sebagai Obyek Wisata Alternatif

June 27, 2008

I Pendahuluan

Bendungan telaga tunjung merupakan sarana irigasi yang berlokasi di Dusun Telaga Tunjung, Desa Timpag, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan. Adapun maksud dari dibangunnya bendungan tersebut adalah untuk menjamin ketersediaan air bagi daerah irigasi di wilayah Kecamatan Tabanan, Kecamatan Kerambitan dan Kecamatan Selemadeg Timur. Daerah yang secara langsung mendapatkan manfaat dari adanya bendungan tersebut adalah daerah irigasi Meliling ( 420h), Gadungan ( 485h ) dan Sungsang ( 430h ).

Selain untuk memenuhi kebutuhan irigasi pertanian, bendungan Telaga Tunjung tersebut juga ditujukan untuk dapat memenuhu kebutuhan air bersih bagi masyarakat antara lain :

  • Kecamatan Selemadeg Timur yang mencakup 6 Desa,
  • Kecamatan Tabanan yang mencakup 2 Desa,
  • Kecamatan Kerambitan yang mencakup 1 Desa

Pembangunan Bendungan Telaga Tunjung ini merupakan proyek dari Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Propinsi Bali sebagai peklaksananya dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Bali. Pelaksanaan pekerjaan bendungan ini dirancang menjadi 4 tahap yang rencananya memakan waktu 4 tahun. Awal pelaksanaanya adalah pada tahun 2003 dan berakhir pada tahun 2006.

Pada perjalannannya pembangunan bendungan yang menghabiskan dana sebesar Rp. 96,704 Milyar tersebut sampai dengan tahun 2008 ini belum dapat dirampungkan sebagaimana awal perencanaan. Dapat dilihat di sekitar kawasan bendungan yang masih adanya sarana yang belum tergarap sesuai dengan perencanaan. Kelanjutan pengerjaan waduk yang diperkirakan akan memiliki daya tampung air efektif sebesar 1 juta m3 ini pada saat ini masih menjadi tanggung jawab dari Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Propinsi Bali.

Untuk memberikan manfaat lebih bagi keberadaan bendungan Telaga Tunjung ini maka Pemerintah Daerah Kabupaten Tabanan merencanakan menjadikan kawasan bendungan ini menjadi daerah obyek wisata. dengan asumsi bahwa pembangunan bendungan yang menelan biaya yang tidak sedikit ini nantinya tidak hanya bermanfaat bagi ektor pertanian saja akan tetapi juga dapat dimanfatkan untuk memperoleh pendapatan dari sektor pariwisata. Pemerintah daerah Kabupaten Tabanan sepertinya sangat serius untuk mengembangkan kawasan bendungan ini menjadi obyek wisata, ini dapat dilihat dari dibentuknya suatu badan tersendiri yang ditugaskan untuk mengelola kawasan bendungan tersebut dalam kaitan bendungan tersebut sebagai obyek wisata.,,,,kendala pengerjaan belum selesai dari pemprop tetapi pegelolaan o w dari pemkab tidak dapat bekerja secara maksaimal.

II Pembahasan

2.1 Ekosistem wilayah Bendungan

Untuk dapat menjadikan bendungan Telaga Tunjung ini sebagai kawasan obyek wisata haruslah diketahui terlebih dahulu karakteristik dari ekosistem/ rona lingkungan hidup kawasan tersebut. hal-hal yang dapat diamati adalah :

A Lingkungan geofisi dengan uraian :

- Iklim, kwalitas udara dan kebisingan.

- fisiografi meliputi topografi bentuk lahan, stabilitas geologis, keunikan dan kerawanan bentuk kawasan

- hidrologi meliputi kondisi fisik air tanah, tingkat penyediaan dan kebutuhan.

- ruang, lahan dan tanah meliputi inventarisasi tataguna lahan, rencana pengembangan wilayah, konflik kepemilikan lahan dan keindahan bentang alam.

B Lingkungan biologi dengan uraian :

- Flora meliputi jenis vegetasi dan populasi yang ada di kawasan.

- Fauna yang meliputi jenis satwa dan populasi yang ada di kawasan.

C Lingkungan sosial dengan uraian :

- Demografi meliputi struktur penduduk, tingkat kepadatan, pertumbuhan penduduk dan tenaga kerja.

- Ekonomi yang meliputi ekonomi rumah tangga, dan ekonomi sumber daya alam.

- Budaya meliputi kebudayaan lokal, proses sosial, pranata sosial, warisan budaya, sikap dan persepsi

- Prasarana umum meliputi ketersediaan fasilitas air, listrik sarana komunikasi, dan jalan.

Dari pengamatan rona awal lingkunga hidup bendungan tersebut wisata alternative yang dapat dikembangkan di Bendungan Telaga Tunjung adalah wisata agro yang dikombinasikan dengan wisata tirta, wisata spiritual dan wisata education ( pendidikan dan pengetahuan ). Pemikiran pengembangan wisata agro, tirta, spiritual dan pendidikan ini tidak terlepas dari konsep awal wisata alternative yaitu pengembangan ekowisata sebagai alternative dari pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dengan tetap menjaga keserasian antar komponen yang ada dalam suatu ekosistem.

Secara umum wilayah Bendungan Telaga Tunjung dapat dijadikan sebagai wilayah pengembangan pariwisata alternatif dengan pertimbangan sebagai berikut :

  • Iklim, kwalitas udara dan kebisingan yang ada di kawasan tersebut cukup baik untuk pengembangan kawasan wisata.
  • Secara fisiografi kawasan tersebut merupakan kawasan yang cukup unik dan indah serta dapat memberikan nuansa yang berbeda bagi pengunjung apabila ditata dengan baik / disesuaikan dengan peruntukannya.
  • Kondisi fisik air dan keserdiaanya sangat memadai untuk menunjang kegiatan wisata/kepariwisataan
  • Wilayah bendungan memiliki Bentang alam yang masih alami dan hijau
  • Persebaran penduduk yang masih terpusat pada titik tertentu ( wilayah Desa ) sehingga masih memungkinkan untuk penataan kawasan secara terencana.

2.2 Pengembangan Kawasan

Pemilihan wisata alternative yang tepat bagi kawasan ini adalah :

  1. Wisata Agro, yang dikembangkan adalah tanaman-tanaman hidroponik, organic dan tanaman-tanaman langka serta tanaman untuk yadnya/ upacara adat dan agama di Bali. pengembangan wisata agro semacam ini akan memberi peluang menjadi wisata education bagi wisatawan maupun pelajar dan peneliti.
  2. Wisata Tirta, dengan adanya kapasitas air yang mencukupi kiranya wisata tirta juga layak untuk dikembangkan misalnya rekreasi pemancingan ikan, tour dengan speedboat/ jukung/ kano.
  3. Wisata Spiritual, melihat kondisi lingkungan dan daya magis yang dimiliki oleh kawasan ini maka wisata spiritual dapat dikembangkan di kawasan ini seperti tempat yoga, relaksasi, semedi dan sejenisnya.
  4. Wisata Education, dengan adanya waduk, tanaman langka/hidroponik secara tidak langsung akan mengembangkan wisata education kepada wisatawan lokal maupun mancanegara. Keingintahuan akan fungsi bendungan, dan keberadaan tanaman langka akan memberi peluang mendatangkan wisatawan.

Akan tetapi menjadikan kawasan Bendungan Telaga Tunjung sebagai obyek wisata adalah pekerjaan yang tidak mudah, apalagi untuk menjadikannya sebagai suatu obyek wisata alternative yang mana pada tataran pelakasnaannya wisata alternative membutuhkan persiapan, perencanaan, biaya, dan pemeliharaan yang jauh lebih besar dari pada obyek wisata biasa. Banyak kendala yang ada untuk mengembangkan kawasan ini yang dirinci sebagai berikut :

  • Partisipasi masyarakat. Pengetahuan dan persepsi masyarakat tentang kepariwisataan sepertinya belum memadai untuk diajak bersama-sama membanguin sektor kepariwisataan di daerah ini. Masyarakat masih berfikir secara individualistik dan hanya memikirkan pendapatan dari obyek saja. Padahal syarat utama dari keberlangsungan suatu obyek apalagi obyek wisata alternatif adalah adanya partisipasi masarakat lokal yang secara sadar ikut berperan mengembangkan dan menjaga dari keberadaan obyek tersebut. Perlu kiranya masyarakat setempat diberikan pengetahuan dan keterampilan tentang kepariwisataan serta manfaat apa yang mereka dapatkan dari obyek secara langsung maupun tidak langsung.
  • Konsep disain pariwisata. Sampai saat ini pengembangan Bendungan Telaga Tunjung belum memiliki konsep disain pariwisata yang dianggap tepat untuk dukembangkan.
  • Biaya. Sepertinya masalah pendanaan adalah salah satu yang menjadi kendala bagi Pemkab Tabanan utnuk mengembangkan obyek wisata bendungan ini, untuk dapat mejadikan obyek ini layak untuk dikunjungi. Seperti penyediaan sarana dan prsarana di kawasan obyek wisata maupun diluar kawasan seperti akses jalan dan informasi.
  • Pemetaan kawasan. Ketidakjelasan batas-batas kawasan wisata akan menimbukan erancuan dalam perkembangan obyek wisata ini. Suatu obyek wisata laternatif haruslah memiliki-batas-batas wilayah yang pasti dan jelas sehingga akan menjamin dari keberlangsunan obyek wisata tersebut.

III Kesimpulan / saran

Bendungan Telaga Tunjung adalah waduk yang dibuat untuk dapat menjaga ketersediaan air bagi pertumbuhan sektor pertanian di Kabupaten Tabanan khsusnya dan Bali pada umumnya. Tetapi pada perjalanannya keberadaan bendungan tersebut diusahakan untuk diberdayakan untuk kegiatan lain yakni sektor pariwisata.

Pemikiran atau ide menjadikan Bendungan Telaga Tunjung ini sebagai kawasan obyek wisata adalah suatu hal yang wajar, yang tidak terlepas dari pemikiran daerah Bali sebagai daerah pariwisata. Untuk menjadikan sesuatu sebagai obyek wisata haruslah ada suatu perencanaan/ konsep awal yang jelas dan mantap mengenai jenis wisata yang akan dilakukan, sarana dan prasana pendukung, biaya, pengelolaan, konsumen yang disasar dan keuntungan yang akan didapat dari obyek wisata tersebut. kejelasan konsep ini dimaksudkan agar obyek wisata tersebut dapat berjalan berkelanjutan dan mendapatkan hasil yang optimal. Tanpa adanya konsep yang jelas maka yang terjadi adalah kegiatan yang hanya membuang-buang uang dan waktu, walaupun maksud yang ingin dicapai adalah sangat baik.

Untuk menjadikan Bendungan Telaga Tunjung ini sebagai obyek wisata (obyek wisata alternative) perlu kiranya melalui beberapa tahapan yaitu :

  • Kejelasan visi dan misi dari di bangunnya obyek wisata ini.
  • Proses pendisainan produk wisata yang terpadu, terencana dan terarah. Dalam hal ini disain produk wisata ini dilaksanakan oleh Pemerintah daerah Kabupaten Tabanan yang nantinya akan dapat menjadikan bendungan ini sebagai salah satu primadona obyek pariwisata di Kabupaten Tabanan khsusnya dan Bali pada umumnya. Disain produk itu haruslah bersifat menonjol, memiliki kekhasan, menarik, terus menerus mengalami perbaikan/ penyempurnaan sehingga obyek wisata tersebut akan terus diminati oleh wisatawan.
  • Pemerintah Daerah juga harus telah memikirkan pembiayaan, pengelolaan, pemeliharaan, pengawasan dan pendapatan dari obyek wisata tersebut, hal ini tidak terlepas dari pengelolaan Bendungan Telaga Tujung ini menjadi kewenangan Pemkab Tabanan. ini juga perlu diperhatikan agar nantinya apa yang dilakukan tidak besar pasak dari pada tiang, karena pariwisata adalah suatu kegiatan usaha yang memerlukan padat karya dan padat hasil.
  • Meningkatkan partisipasi dan pemahaman masyarakat setempat terhadap obyek wisata tersebut pada khususnya dan pariwisata pada umumnya baik secara langsung maupun tidak langsung hal ini terkait dengan upaya untuk menjaga keberlangsungan obyek wisata tersebut.
  • Menumbuhkembangkan potensi yang dimiliki oleh masyarakat setempat untuk menunjang keberlangsungan obyek wisata, misalnya menyediakan produk lokal ( makanan, minuman, kerajinan ) untuk daya tarik tambahan dari obyek wisata.
  • Membuat suatu rencana tata ruang khusus obyek wisata tersebut untuk mendapatkan kepastian wilayah ruang dan lingkup oprasionalnya, sehingga akan terjamin kepastian hukum dalan mengelola obyek tersebut.
  • Memperbaiki infrastruktur yang ada seperti akses jalan dan informasi.
  • Adanya keseriusan dari Pemkab Tabanan, pelaku pariwisata, badan pengelola, pemerhati lingkungan dan masyarakat setempat untuk bersama-sama mengembangkan obyek wisata tersebut.

Entry Filed under: Pariwisata, Tulisan. Tags: , , , .

1 Comment Add your own

  • 1. Ir. sigit adjarsusilo, MM  |  September 25, 2008 at 4:20 am

    Gagasan pengembangan kawasan pariwisata Bendungan Telaga Tunjung sebenarnya terletak pada keberadaan subak agung Yeh HO. Subak telah mendapat perhatian dunia dan dianggap PBB warisan budaya. Melestarikan subak adalah tujuan utama dan inovasi pengembangan pariwisata adalah dg meningkatkan eksistensi subak Yeh Ho yaitu pemberdayan seluruh masy yg memiliki lahan di DAS Yeh HO spy perduli akan lingkungan, menamam pohon mencegah erosi sehingga bendngan T Tunjung menjadi telaga buatan manusia yg terjernih dan terindah. Ini akan menjadi daya tarik bagi ilmuwan untuk menginap di Telaga Tunjung menikmati gaya hidup petani/subak. Disisi lain alamnya cukup menarik dan menjadi inspirasi seniman untuk tinggal menginap. Jadi nilai jualnya terletak di kandungan ilmiah ’sistem organisasi petani’ subak, bukan pengembangan areal wisata dengan luasan tertentu seperti agrowisata. Saya ada bukunya, dan saya adalah penggagas sekaligus salah satu perancang Bendungan Telaga Tunjung yang bersama-sama Bupati p Adi Wiratama ke Jakarta untuk mencari dana pembangunan tsb..
    Terima kasih.
    Ir. Sigit Adjarsusilo,MM.

    Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

Archives

Tags

bali bendungan Budaya industri kebudayaan komoditas manajemen obyek Pariwisata pembangunan

Recent Comments

Ir. sigit adjarsusil… on Kajian Bendungan Telaga Tunjun…
Mr WordPress on Hello world!

Pages

Blogroll

Penulis